Model Pembelajaran

Beberapa Model, Strategi, Pendekatan Pembelajaran.

  1. 1.      REACT

Pada dasarnya semua strategi yang searah dengan penciptaan suasana pembelajaran yang konteks merupakan elemen pembelajaran kontekstual. Menurut Center for Occupational Research (COR) (Muslich, 2011:41) ada lima strategi yang harus tampak dalam pembelajaran kontekstual yaitu:

1. mengaitkan/menghubugkan (relating),

2. mengalami/penemuan (experiencing),

3. menerapkan/penggunaan (applying),

4. bekerjasama (cooperating),

5. mentransfer (transfering).

Strategi tersebut disingkat REACT yang terfokus pada pembelajaran konteks. Semua strategi tersebut harus digunakan selama proses pembelajaran. Secara singkat, harapan yang ingin dicapai  dari pembelajaran dengan strategi REACT.

Bentuk Pembelajaran dengan Tahapan REACT

Tahap

Harapan

Relating (mengaitkan)

Belajar dalam konteks  mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman hidup

Experiencing (mengalami)

Belajar dalam konteks penemuan dan daya cipta

Applying (menerapkan)

Belajar dalam konteks bagaimana pengetahuan atau informasi dapat digunakan dalam berbagai situasi

Cooperating (bekerjasama)

Belajar dalam konteks bekerjasama dan berkomunikasi antar sesama pelajar

Transferring (mentransfer)

Belajar dalam konteks pengetahuan yang ada atau membina dari apa yang sudah diketahui.

Sumber: http://www.fineprint.com (Hidayat, 2010:23)

Berdasarkan kelima strategi itu, maka langkah – langkah pokok pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran REACT adalah sebagai berikut:

1. Relating, guru mengkondisikan siswa agar mampu mengaitkan konsep – konsep baru yang akan dipelajari dengan konsep – konsep yang telah dipelajarinya, dengan cara memberikan permasalahan yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.

2. Experiencing, guru menciptakan situasi yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep baru yang sesuai dengan materi  yang sedang dipelajari

  1. 3.  Appliying, guru memberikan persoalan – persoalan yang menuntut siswa agar mampu menggunakan konsep – konsep yang telah dipelajarinya. Guru juga dapat memberikan motivasi untuk memperdalam pemahaman konsep melalui tugas yang realistis dan relevan.

4. Cooperating, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kegiatan Relating, Experiencing, Appliying, dan Transferring dapat dilaksanakan melalui kerjasama antar siswa, berdiskusi, saling berbagi, dan merespon dengan sesama siswa.

5. Transferring, pada tahap ini siswa harus mampu menggunakan pengetahuan yang baru diperolehnya dalam menghadapi konteks atau situasi  yang baru yang diberikan oleh guru.

  1. 2.      Model Pembelajaran Jigsaw (Aronson,Blaney,Stephen,Sikes and Snapp,1978)

Dalam model pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli), setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan peran yang sama dengan materi berbeda (masih dalam satu bab) namun bobotnya relatif sama. Tidak ada anggota kelompok yang tidak mendapat bagian tugas.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagi berikut  :

  1. Siswa dikelompokkan ke dalam  4 anggota tim.
  2. Tiap orang anggota dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka .
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  7. Guru memberi evaluasi.
  8. Kesimpulan/Penutup.
  1. 3.      Rotation Trio Exchange

Langkah-langkah Strategi Rotation Trio Exchange

Langkah-langkah Strategi Rotation Trio Exchange menurut Arifin (2011) adalah sebagai berikut:

1)      Kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang, kelompok pertama ini di sebut kelompok asal.

2)      Berikan pada trio tersebut soal untuk didiskusikan.

3)      Setelah selesai anggota kelompok diberi indeks 0,1 dan 2 untuk mempermudah rotasi.

4)      Setelah masing-masing kelompok mendapatkan kesimpulan dari soal yang dikerjakan, anggota kelompok dirotasikan untuk membentuk kelompok trio yang baru.

5)      Dengan indeks 0 tetap di tempat sedangkan indeks 1 dan indeks 2 mencari kelompok baru atau disebut juga kelompok bertamu sehingga akan terbentuk trio yang baru atau bercampur dengan anggota kelompok lain.

6)      Trio yang baru ini berdiskusi untuk mengerjakan soal yang bertujuan menyatukan konsep atau jawaban yang telah diperoleh dari kelompok asal.

7)      Kemudian diberi soal baru lagi dengan permasalahan yang lebih sulit.

8)      Rotasi seperti ini dilakukan sebanyak tiga kali, sampai trio kembali seperti semula.

  1. Model pembelajaran Make a Match (Lorna Curran,1994)

Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan.

Langkah-langkah pembelajaran Make a Match adalah sebagi berikut :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Artinya siswa yang kebetulan mendapat kartu ‘soal’ maka harus mencari pasangan yang memegang kartu ‘ jawaban soal’ secepat mungkin. Demikian juga sebaliknya.
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.
  7. Demikian seterusnya sampai semua kartu soal dan jawaban jatuh ke semua siswa.
  8. Kesimpulan/penutup.

5.      Pembelajaran Kooperatif tipe GI (Group Investigation)

Menurut Slavin (1995: 113-114) dalam implementasi teknik group investigation dapat dilakukan melalui 6 (enam) tahap. Tahapan tersebut adalah: 1) identifying the topic and organizing pupils into groups, 2) planning the learning task, 3) carring out the investigation, 4) preparing a final report, 5) presenting the final report, and 6) evaluation. Dengan melihat tahapan tersebut, maka pembelajaran dengan teknik group investigation berawal dari mengidentifikasi topik dan mengatur murid kedalam kelompok, merencanakan tugas yang akan dipelajari, melaksanakan investigasi, menyiapkan laporan akhir, mempersentasikan laporan akhir dan berakhir pada evaluasi.

Dari uraian pendapat Slavin, di atas dapat dijelaskan bahwa dalam group investigation, para siswa bekerja melalaui enam tahapan. Tahapan-tahapan ini dan komponen-komponennya dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasikan topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok.
    1. Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik dan mengkategotikan saran-saran.
    2. Para siswa begabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang mereka pilih.
    3. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat homogen.
    4. Guru membantu dalam mengumpulkan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
  2. Merencanakan tugas yang akan dipelajari

Para siswa merencanakan bersama mengenai apa yang akan dipelajari, bagaiman memepelajarinya dan pembagian tugas .

  1. Melaksanakan investigasi
    1. Para siswa mengumpulkan informasi, mengenai data dan membuat kesimpulan
    2. Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
    3. Para siswa saling bertukar, bediskusi, mengklasifikasi, dan mensintesis semua gagasan.
  2. Menyiapkan laporan akhir
    1. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari tugas mereka
    2. Anggota kelompok merencanakan apa yang mereka laporkan, dan bagaiman mereka membuat pesentasinya.
    3. Wakil-wakil kelompok membentuk panitia untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.
  3. Mempresentasikan laporan akhir
    1. Presentasi yang dibuat untuk semua kelas dan berbagai macam bentuk
    2. Presentasi harus dapat melibatkan peseta secara aktif
    3. Para peserta mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan keriteria yang telah ditentukan sebelumnya.
  4. Evaluasi
    1. Para siswa saling meberikan umpan balik mengenai topik tersebut.
    2. Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
    3. Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.
    4. Pendekatan lain untuk mengevaluasi dapat dengan membuat para siswa merekonstruksi proses investigasi yang telah mereka lakukan dan memetakan langkah-langkah yang telah mereka terapkan dalam pembelajaran mereka.
  1. 6.      Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Accelarate Instruction)

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini memiliki 8 komponen, kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa.
  2. Placement Test yaitu pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
  3. Curriculum materials yaitu materi yang dikerjakan oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang ada.
  4. Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan. Para siswa mengerjakan unit – unit mereka dalam kelompok mereka atau dengan kata lain siswa diberikan untuk mengerjakan soal secara individu terlebih dahulu kemudian setelah itu mendiskusikan hasilnya dengan kelompok masing – masing.
  5. Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
  6. Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
  7. Fact test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
  8. Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran TAI adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa.
  2. Guru memberikan pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. (Mengadopsi komponenPlacement Test).
  3. Guru memberikan materi secara singkat. (Mengadopsi komponen Teaching Group).
  4. Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berdasarkan nilai ulangan harian siswa, setiap kelompok 4-5 siswa. (Mengadopsi komponen Teams).
  5. Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru berupa LKS yang telah dirancang sendiri sebelumnya, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya. Siswa terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk mengerjakan LKS secara individu, baru setelah itu berdiskusi dengan kelompoknya. (Mengadopsi komponen Team Study).
  6. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya dengan mempresentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan oleh guru.
  7. Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu. (Mengadopsi komponen Fact Test).
  8. Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang berhasil (jika ada) berdasarkan hasil koreksi. (Mengadopsi komponen Team Score and Team Recognition).
  9. Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan.

Keuntungan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe TAI.

  • Keuntungan pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut.
  1. Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah;
  2. Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok;
  3. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketarmpilannya;
  4. Adanya rasa tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan masalah.
  • Kelemahan pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut.
  1. Siswa yang kurang pandai secara tidak langsung akan menggantungkan pada siswa yang pandai;
  2. Tidak ada persaingan antar kelompok

Sumber

Arifin, S. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Aktif Melalui Strategi Rotating Trio Exchange untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Aktivitas Belajar Siswa SMA Kelas X Semester II Pokok Bahasan Kalor. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. 7, 97-100 tersedia pada http://uap.unnes.ac.id/data/jurnal/1079-2037-1-PB.pdf [18/11/2011]

Mulyana, E. 2008. Model Tukar Belajar (Learning Exchange). Bandung: Alfabeta.

Silberman, M. 2012. Active Leraning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Translated by Sarjuli et al.2007.Yogyakarta: Pustaka Insan Madani

http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/06/model-pembelajaran-make-a-match-lorna-curran-1994/

http://syarifartikel.blogspot.com/2011/10/pembelajaran-kooperatif-dengan-tipe-ta.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s